← Kembali

Diskusi Publik “Refleksi Gerakan Mahasiswa Bali Utara” Perkuat Semangat Kritis dan Kolaborasi Mahasiswa

GmnI Buleleng - Sabtu, 11 Juli 2026 | 10:58

Singaraja, Bali | 2 Juli 2026 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Buleleng menyelenggarakan Diskusi Publik bertajuk “Refleksi Gerakan Mahasiswa Bali Utara” pada Kamis (2/7) di Coffeeshop Kopi deKakiang, Singaraja. Kegiatan ini menjadi ruang dialog lintas kampus yang bertujuan membangun kembali semangat gerakan mahasiswa sebagai kekuatan moral, intelektual, dan agen perubahan dalam menjawab berbagai persoalan kebangsaan. Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yaitu Aktivis Reformasi 1998 Drh. Made Iwan Dewantama, M.Si., Presiden Mahasiswa Universitas Udayana Periode 2025/2026 I Wayan Arma Surya Darmaputra, serta Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha Carles Parlindungan Harefa. Melalui perspektif yang berbeda, ketiganya mengulas perjalanan gerakan mahasiswa, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, serta pentingnya menjaga independensi dan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat. Dalam pemaparannya, Drh. Made Iwan Dewantama menegaskan bahwa semangat perjuangan mahasiswa harus terus hidup di setiap zaman. “Gerakan mahasiswa bukan sekadar romantisme sejarah 98, melainkan tanggung jawab yang terus berlanjut. Setiap generasi punya medannya sendiri untuk memperjuangkan keadilan.” Sementara itu, I Wayan Arma Surya Darmaputra menekankan bahwa pembangunan kualitas intelektual merupakan syarat utama dalam menyelesaikan persoalan sosial. “Tidak ada yang lebih penting dari perut lapar, tetapi makan saja tidak akan cukup. Kita perlu memiliki otak yang pintar untuk menuntaskan semua perut yang kelaparan.” Adapun Carles Parlindungan Harefa mengajak mahasiswa untuk terus menjalankan fungsi strategisnya sebagai agent of change, social control, dan moral force. “Sebagai pemuda intelektual sudah seharusnya kita memaksimalkan peran kita sebagai agent of change, social control, dan moral force untuk memastikan setiap kebijakan di negara ini harus sesuai dengan kepentingan rakyat.” Diskusi yang diikuti oleh 22 panitia dan sekitar 70 peserta tersebut berlangsung interaktif melalui sesi pemaparan materi dan dialog terbuka. Peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi menyampaikan pandangan mengenai tantangan gerakan mahasiswa di Bali Utara sekaligus menawarkan berbagai gagasan untuk memperkuat budaya kritis, kolaboratif, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat. Ketua Panitia, Made Dibyananta Wiguna, mengatakan bahwa diskusi publik ini bukan sekadar forum akademik, melainkan momentum konsolidasi untuk membangkitkan kembali semangat perjuangan mahasiswa di Bali Utara yang selama ini dinilai mulai kehilangan daya dorong sebagai kekuatan perubahan sosial. “Output utama dari kegiatan ini adalah membangkitkan kembali semangat perjuangan dan refleksi gerakan mahasiswa di Bali Utara. Kampus tidak boleh menjadi ruang yang sunyi dari kritik, dan mahasiswa tidak boleh kehilangan keberpihakannya kepada rakyat. Refleksi ini harus melahirkan keberanian untuk mengorganisasi gagasan, mengawal kebijakan publik, serta membangun gerakan yang konsisten berpihak pada keadilan sosial. Gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah, tetapi harus hadir sebagai kekuatan intelektual yang mampu membaca realitas, mengkritisi ketimpangan, serta menawarkan solusi atas persoalan masyarakat dan daerah.” Menurutnya, refleksi tersebut diharapkan menjadi titik awal lahirnya konsolidasi lintas kampus di Bali Utara yang mampu menghidupkan kembali tradisi diskusi, kajian ilmiah, advokasi kebijakan, dan gerakan sosial yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Melalui kegiatan ini, DPC GMNI Buleleng berharap lahir kolaborasi yang lebih kuat antarmahasiswa lintas kampus dalam membangun tradisi intelektual, memperluas ruang diskusi publik, serta meningkatkan kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial. Diskusi ini juga menjadi bagian dari komitmen organisasi untuk menghidupkan kembali semangat “Pejuang Pemikir, Pemikir Pejuang” sebagai landasan gerakan mahasiswa yang progresif, demokratis, dan berpihak pada rakyat.